Bekerja Berlibur Menjadi Kebutuhan Pokok Warga Kota

Bekerja Berlibur Menjadi Kebutuhan Pokok Warga Kota

Bekerja Berlibur Menjadi Kebutuhan Pokok Warga Kota tidak dipungkiri menjadi pola kehidupan warga yang tinggal di Kota seperti DKI Jakarta. Pola kehidupan yang umum dan mudah dilihat siapapun di kota Jakarta. Hal biasa bila pada pagi hari dan bahkan matahari belum muncul, beberapa jalan Ibukota telah padat dengan kendaraan. Kepadatan semakin berambah dengan berjalannya sang mentari dari ufuk timur. Namun suatu ketika, disaat hari libur kerja atau hari libur nasional, maka jalan terasa lengang pada waktu yang sama. Fenomena menarik untuk ditulis, seperti pada posting kali ini.

Bekerja Berlibur Menjadi Kebutuhan Pokok Warga Kota

Bekarja pasti dilakukan oleh siapapun dengan tingkatan berbeda, baik tingkat bawah, menengah atau tingkat atas. Rata-rata semua berjalan pada waktu yang hampir bersamaan, meskipun berbeda cara. Ada yang berangkat dengan kendaraan pribadi, baik mobil atau motor, dan ada pula yang bergelantungan pada bus kota atau commuterline. Sebuah pemandangan yang bisa dinikmati setiap hari di Jakarta dan sekitarnya. Begitupun ketika pada saat selesai jam kerja, kondisi tidak jauh berbeda ketika berangkat.


Berbagai profesi pekerjaan dilakukan di kota jakarta, mulai dari wiraswasta, pekerja kantoran, pegawai negeri, pedagang dan entah apalagi sebutannya. Kepadatan lalulintas, kejenuhan dan kepenatan pastinya menjadi seperti sebuah penjara bagi mereka. Belum lagi mereka yang masih dalam proses mencari pekerjaan, bisa dibayangkan apa yang dirasakan oleh mereka semua. Kepadatan lalulintas saja sudah membuat pusing, bagaimana dengan apa yang dirasakan mereka ketika menjadi subjek dan objek metropolis.

Tekanan kehidupan yang tinggi rasanya berlaku bagi warga kota seperti kota Jakarta. Apa jadinya bila tidak ada hari libur, bisa-bisa banyak yang joget disiang bolong. Untungnya hari kerja rata-rata hanya 5 hari dan terkadang ada bonus libur nasional bisa lebih dari 2 hari. Saat itulah, Kota Metropolitan jadi lengang tanpa tekanan pada beberapa ruas jalan. Keramaian pindah pada beberapa daerah tempat bersantai, yaitu tempat untuk menghilangkan kepenatan selamat 5 hari. Itu bagi yang berduit, lalu buat yang tidak berduit paling hanya duduk-duduk atau santai dirumah bersama keluarga.

Bekerja Berlibur Menjadi Kebutuhan Pokok Warga Kota, Pointnya Apa?

Lantas apa point dari tulisan Bekerja Berlibur menjadi sebuah kebutuhan pokok orang Jakarta? Pointnya adalah bila tidak ada hari libur minimal 1 hari, yang akan terjadi fatal buat warga jakarta yang super sibuk. Tidak terkecuali antara warga kelas bawah, menengah atau atas, dijamin stress bila tidak ada hari libur dan kemudian berlibur dengan cara masing-masing. Tentu berbeda cara berlibur, tergantung dari kemampuan.

Untuk yang punya modal bisa jalan-jalan ke luar kota atau bahkan wisata ke Singapura malah bisa ke luar negeri lainnya. Pokoknya mengerikan bila tidak ada hari libur buat warga kota Jakarta. Ada yang berliburnya hanya jalan-jalan sekitar rumah atau kampung, hingga jalan kampung pun macet. Ada yang berlibur sebagai eksistensi kesuksesan, ada yang hanya sekedar tidak bekerja dan lain sebagainya. Tapi tak jarang, warga kota Jakarta ada yang tidak pernah berlibur, karena mereka tidak tertekan atau sebaliknya, tidak boleh berhenti bekerja.

Balik ke >>>> Bekerja Berlibur Menjadi Kebutuhan Pokok Warga Kota

Share this: